Perbedaan Orangutan Sumatra (Pongo abelii) dengan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus)
orangutan merupakan hewan langka yang berpotensi mengalami kepunahan. Bagaimana tidak karena keunikan yang ia miliki menyebabkan para manusia memiliki ketertarikan akan dirinya yang memburu mereka hingga dapat. Orangutan merupakan kera berukuran besar seperti kera lainnya yang hidup di Afrika seperti Gorilla (Gorilla gorrila), simpanse (Pan troglodytes) dan bonobo (Pan panicus). Orangutan hidupnya sangat bergantung dengan lingkungan sekitar, semakin banyak pohon (terutama yang memiliki buah) semakin banyak populasi orangutan di wilayah tersebut. presentase tertingi bagian tumbuhan yang dimakan oleh orangutan adalah buah (55%), daun dan pucuk (14%), umbut (6%) dan sisanya dalam bentuk kombinasi buah-daun-pucuk-umbut. Buah yang biasa dikonsumsi oleh orangutan adalah dolok merah (Syzygium), gala-gala (Ficus racemosa) dan medang nangka (Elaeocarpus obtusus), beringin (Ficus benjamina), dan hoteng (Quercus maingayi).
![]() |
| Orangutan memakan buah Ficus sp |
Fakta unik dari orangutan adalah memiliki kebiasan berpindah tempat dari pohon satu ke pohon yang lain. Orangutan akan menetap jika ketersediaan makanan cukup melimpah. Orangutan juga sangat menyukai buah-buahan yang berdaging, lembekk, berbiji, termasuk buah berbiji tunggal dan buah beri seperti Ficus sp. Namun demikian, orangutan tercatat pula sebagai pemakan telur burung, vertebrata kecil seperti tupai, tokek dan kukang, serta menyukai madu. (Meijaard et al., 2001).
Banyak peneliti menyebutkan bahwa perbedaan Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dengan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) berasal dari pemisahan yang berlangsung sangat lama antara orangutan Kalimantan dan Sumatera yang telah menyebakan adanya perbedaan baik secara morfologi maupun genetika diantara kedua primata ini. Namun beberapa pakar lainnya yang menganut konsep (Biological Species Concept) tetap mengelompokkan sebagai jenis yang sama karena kedua orangutan asal Kalimantan dan Sumatera dapat melakukan perkawinan dan menghasilkan turunan yang subur (fertile).
Secara Taksonomi
Orangutan termasuk kedalam kelas mamalia, ordo primata dan famiy hominidae (IUCN 2013). menurut para ahli kedua jenis orangutan ini telah terisolasi satu sama lain selama 10.000 - 15.000 tahun yang lalu dan memiliki perbedaan morfologi yang sangat sedikit (Rijksen dan Meijaard 1999). sedangkan menurut Warren, pemisahan antara orangutan Kalimantan dan orangutan Sumatera adalah sekitar 1,1 juta tahun yang lalu dan pemisahan antara empat populasi yang berbeda di Kalimantan karena barrier sungai besar terjadi sekitar 860.000 tahun yang lalu yang kemudian menjadikannya anak jenis yang berbeda. Menurut Locke et al., (2011) waktu spesiasi orangutan telah terjadi selama 400.000 tahun yang lalu antara orangutan Kalimantan dengan Sumatera.
Menurut pakar primata, orangutan Sumatera hanya memiliki dua anak jenis orangutan di kalimantan yaitu P. p. pygmaeus dan P. p. wurmbii. Akan tetapi pada publikasi yang dikeluarkan oleh PHVA (Singleton et al., 2004) menyebutkan bahwa bukan hanya ada dua anak jenis untuk orangutan Kalimantan tapi ada satu anak jenis tambahan yaitu P. p. morio.
Perbedaan Jenis
- P. p. pygmaeus merupakan anak jenis yang paling terancam kepunahan, dengan jumlah individu berkisar antara 3.000-4.500 individu, yang tersebar di bagian utara Sungai Kapuas meliputi bagian utara barat Kalimantan dan sebagian daerah Sarawak.
- P. p. wurmbii merupakan anak jenis yang paling banyak jumlah individunya, dengan jumlah perkiraan populasi lebih dari 34.975 individu
- P. p. morio diketahui memiliki penyebaran di Kalimantan timur dan Sabah Malaysia. Jumlah populasi di Kalimantan Timur diperkirakan sekitar 4.800 individu yang menempati daerah terpisah-pisah, sedangkan jumlah populasi yang berada di Sabah-Malaysia diduga berjumlah sekitar 11.000 individu (Wich et al., 2008).
Morfologi
![]() |
| Pongo pygmaeus |
![]() |
| Pongo abelii |
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) memiliki tubuh yang lebih tegap dan mempunyai kulit wajah dan warna rambut yang lebih gelap daripada orangutan Sumatera. Orangutan Kalimantan jantan memiliki kantung tengkorak yang besar dan terumbai sedangkan orangutan Sumatera memiliki kantung teggorokan lebih kecil. Lalu ciri khas lain dari orangutan jantan Kalimantan yaitu memiliki pinggiran (flange) muka yang cenderung melengkung ke depan sebaliknya orangutan jantan Sumatera memiliki pinggiran muka yang lebih datar.
![]() |
| Jarak Jelajah Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) |
Orangutan yang berasal dari Sumatera maupun Kalimantan berdasarkan pola hidupnya dibedakan menjadi orangutan penetap, penjelajah dan pengembara (Meijaard dkk., 2001). Orangutan penetap merupakan individu yang telah memiliki daerah jelajah tidak terlalu luas, biasanya dimiliki oleh individu dewasa yang berukuran tubuh besar dan menempati wilayah yang telah dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, penjelajah adalah orangutan yang melakukan perpindahan ke lokasi lain dan dalam kurun waktu tertentu dan akan kembali ke lokasi semula, pengembara merupakan orangutan yang melakukan pergerakan perpindahan tempat ke lokasi lain dan tidak kembali ke lokasi awal, untuk penetap dan pengembara ini biasanya dilakukan oleh individu jantan yang masih muda.
semoga bermanfaat dan memberikan ilmu baru kepada anda semua.
sayangilah mereka, mereka bagaikan tukang kebun yang menjaga kebun agar tetap lestari oleh karena itu kita harus menjaga mereka. salam lestari
Daftar Pustaka
http://docplayer.info/53247328-Universitas-indonesia.html
IUCN. 2013. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2013.2. <www.iucnredlist. org>. Downloaded on 14 April 2014.
Meijaard, E., Rijksen, H.D., Kartikasari, S.N. 2001. Di Ambang Kepunahan !, Kondisi Orangutan Liar di Awal Abad ke-21. Penyunting S.N. Kartikasari. Jakarta: The Gibbon Foundation Indonesia
Rijksen, H.D. & Meijaard, E. 1999. Our Vanishing Relative: The status of Wild Orang-utans at the close the Twentieth Century. Kluwer Academic Publisher, Dordrecht
Singleton, I., Wich, S., Husson, S., Stephens, S., Atmoko, S.U., Leighton, M., Rosen, N., Traylor-Holzer, K., Lacy, R. & Byers, O. (eds.). 2004. Orangutan Population and Habitat Viability Assessment: Final Report. IUCN/SSC Conservation Breeding Specialist Group, Apple Valley, MN.
Wich, S.A, Meijaard, E., Marshall, A.J, Huson, S., Ancrenaz, M., Robert, C.L., van Schaik, C.P., Sugardjito, J., Simorangkir, T., Kathy, T.H, Doughty, M., Supriatna, J., Dennis, R., Gumal, M., Knott, C.D. & Singleton, I. 2008. Distribution and conservation status of the orang-utan (Pongo spp) on Kalimantan and Sumatera: how many remain? Oryx, 43 (3): 329-339.
Meijaard, E., Rijksen, H.D., Kartikasari, S.N. 2001. Di Ambang Kepunahan !, Kondisi Orangutan Liar di Awal Abad ke-21. Penyunting S.N. Kartikasari. Jakarta: The Gibbon Foundation Indonesia
Rijksen, H.D. & Meijaard, E. 1999. Our Vanishing Relative: The status of Wild Orang-utans at the close the Twentieth Century. Kluwer Academic Publisher, Dordrecht
Singleton, I., Wich, S., Husson, S., Stephens, S., Atmoko, S.U., Leighton, M., Rosen, N., Traylor-Holzer, K., Lacy, R. & Byers, O. (eds.). 2004. Orangutan Population and Habitat Viability Assessment: Final Report. IUCN/SSC Conservation Breeding Specialist Group, Apple Valley, MN.
Wich, S.A, Meijaard, E., Marshall, A.J, Huson, S., Ancrenaz, M., Robert, C.L., van Schaik, C.P., Sugardjito, J., Simorangkir, T., Kathy, T.H, Doughty, M., Supriatna, J., Dennis, R., Gumal, M., Knott, C.D. & Singleton, I. 2008. Distribution and conservation status of the orang-utan (Pongo spp) on Kalimantan and Sumatera: how many remain? Oryx, 43 (3): 329-339.






Komentar
Posting Komentar